Di masa kerja pertama, kamu mungkin dituntut selalu tampil enerjik, semangat dan optimis. Bahkan ada kalanya kamu dipaksa untuk selalu melihat sisi positif dari segalanya meski pada praktiknya kamu sedang tidak baik-baik saja. Alhasil, semangat dan optimisme semu ini justru jadi beban tambahan. Inilah yang disebut toxic positivity. Istilah ini menggambarkan suasana kerja di mana ekspresi negatif seperti stres, frustrasi, atau kelelahan dibungkam karena alasan “harus selalu positif”
Dikutip dari artikel Society for Human Resource Management (SHRM), toxic positivity di kantor bisa menghambat keterbukaan dan kesejahteraan seseorang. Bila suasana menekan kamu untuk menutupi masalah, kamu bisa merasa sendiri dan semakin stres. Studi bahkan menunjukkan bahwa hampir setengah orang yang menjadi karyawan merasakan stres berat akibat budaya positif yang dipaksakan ini.
Toxic positivity bisa muncul melalui ucapan orang lain atau dari diri kamu sendiri akibat kurangnya pengelolaan emosi yang kurang tepat. Salah satu contohnya saat kamu memaksa diri untuk terus bekerja meski kamu sedang sakit atau lelah fisik.
Apa Saja Dampaknya untuk Kamu?
Meski sekilas terlihat baik, namun faktanya toxic positivity adalah hal buruk. Ketika kamu menekan atau mengabaikan emosi negatif, emosi itu makin membesar dan justru menghambat produktivitas kamu di kantor.
- Burnout meningkat. Bukannya jadi motivasi, perasaan terus-menerus harus bahagia justru bikin kelelahan emosional semakin parah.
- Sulit validasi diri. Kamu jadi ragu menyuarakan masalah, karena takut dianggap “negatif”. Itu bisa menurunkan rasa percaya diri dan produktivitas.
- Kurang kepercayaan lingkungan kerja. Bila semua masalah diabaikan, hubungan antar rekan kerja jadi dangkal dan menggerus kepercayaan .
Kiat Agar Tidak Terjebak Toxic Positivity
Masih dari artikel yang dikutip dari SHRM, budaya kerja seharusnya tidak hanya mendukung semangat dan optimisme dalam pekerjaan, tapi juga kejujuran emosi. Semangat yang kosong dan semu hanya memperparah luka mental yang kamu alami. Kamu bisa menghindari hal ini dengan beberapa cara berikut:
- Validasi emosi dengan mengakui bahwa stres atau kecewa itu wajar. Setelah itu kelola emosi tersebut dengan berbagai cara yang baik. Contohnya, kamu bisa mulai break sejenak dari pekerjaan lewat kegiatan yang santai seperti menulis keluh kesah di buku harian sambil menikmati kopi Kapal Api Special hangat yang kamu buat sendiri di kantor, atau mengambil cuti untuk menikmati staycation singkat.
- Buka ruang bicara dan dorong adanya tempat curhat, diskusi dan refleksi di kantor dengan orang yang kamu percayai, baik itu rekan kerja atau mungkin atasan kamu.
- Sampaikan dengan cara yang dewasa dan profesional. Kamu tidak harus menyalurkannya dengan cara marah-marah, sebaliknya kamu bisa menyampaikan dengan cara asertif.
- Hindari ‘glossing’, yaitu memuluskan masalah besar dengan kata-kata motivasi dangkal, karena ini justru melemahkan moral & kepercayaan
- Ajukan solusi bersama yang baik sehingga kamu tidak terkesan hanya bisa mengeluh.
Mengedepankan optimisme dan semangat di tempat kerja memang penting, tapi jangan sampai memaksa diri tampil positif secara berlebihan. Selain itu, penting untuk menciptakan lingkungan yang juga peduli terhadap emosi negatif dan memberi ruang untuk beristirahat atau berbicara. Dengan begitu, kamu tidak hanya produktif, tapi juga sehat secara mental, baik untuk sekarang maupun masa depan karirmu.
sumber: unspokenrules.live, shrm.org, nypost.com, glints.com